Gerbang Kerahiman Ilahi 2 Juni 2020

GERBA  BHF
Tgl 2 Juni 2020
Tema: Hati Yesus yg Maharahim

BHF – 628
Pada petang hari terakhir sebelum keberangkatanku dari Vilnius, seorang suster yang
sudah tua  mengungkapkan keadaan jiwanya kepadaku.

Ia berkata bahwa ia sudah menderita
batin selama beberapa tahun: ia merasa bahwa semua pengakuan dosanya tidak baik, dan ia
menjadi ragu-ragu apakah Tuhan Yesus telah mengampuninya. Aku bertanya kepadanya
apakah ia sudah menceritakan kepada bapak pengakuannya mengenai hal ini.
Ia menjawab
bahwa ia telah banyak kali berbicara mengenai hal ini kepada bapak pengakuannya dan “…
para bapak pengakuan selalu mengatakan kepadaku supaya hatiku tenang, tetapi aku tetap
saja sangat menderita, dan tidak ada suatu pun yang membuat hatiku merasa lega, dan terus
menerus aku merasa bahwa Allah belum mengampuniku.” Aku menjawab, “Engkau harus
menaati bapak pengakuanmu, Suster, dan hendaklah hatimu sungguh damai sebab ini sungguh
godaan.”
Tetapi, ia meminta kepadaku dengan berlinang air mata untuk bertanya kepada Yesus
apakah Ia telah mengampuninya dan apakah pengakuan-pengakuannya itu baik atau tidak.
Aku
menjawab dengan tegas, “Bertanyalah sendiri kepada-Nya, Suster, kalau engkau tidak percaya
kepada para bapak pengakuanmu!”
Tetapi, ia memegang tanganku erat-erat dan tidak mau
membiarkan aku pergi sebelum aku memberinya suatu jawaban, dan ia tetap minta kepadaku
supaya berdoa untuknya dan untuk memberitahukan kepadanya apa yang dikatakan Yesus
kepadaku tentang dia.
Sambil menangis pedih, ia tidak mau membiarkan aku pergi dan berkata
kepadaku, “Aku tahu bahwa Tuhan Yesus berbicara kepadamu, Suster.”
Karena ia terus memegangi tanganku dan aku tidak dapat melepaskan diri, maka aku berjanji kepadanya
bahwa aku akan berdoa baginya.

Pada petang hari, dalam kebaktian kepada Sakramen
Mahakudus, aku mendengar kata-kata ini dalam jiwaku, “Katakan kepadanya bahwa
ketidakpercayaannya melukai Hati-Ku lebih daripada dosa-dosa yang ia lakukan.”

Ketika aku
mengatakan hal ini kepadanya, ia mulai menangis seperti seorang anak, dan sukacita yang
besar memenuhi jiwanya.
Aku tahu bahwa Allah ingin menghibur jiwa ini melalui aku. Meskipun
itu menuntut banyak pengurbanan dariku, aku memenuhi keinginan Allah.